PENDIDIKAN KARAKTER MEMBENTUK MORAL ANAK BANGSA

Standar

A.      Pendahuluan

Pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Muara ranah kognitif adalah tumbuh dan berkembangnya kecerdasan dan kemampuan intelektual akademik, ranah afektif bermuara pada terbentuknya karakter kepribadian, dan ranah psikhomotorik akan bermuara pada keterampilan vokasional dan  perilaku.

Pasal 3 UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan tersebut merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Rumusan tujuan pendidikan nasional inilah yang menjadi landasan pengembangan pendidikan karakter bangsa.

Terdapat beberapa fenomena yang mendasari bahwa pendidikan karakter itu penting bagi bangsa Indonesia. Fenomena tersebut antara lain 1) kondisi moral/akhlak generasi muda yang rusak/hancur. Hal ini ditandai dengan maraknya seks bebas dikalangan remaja.2) rusaknya moral bangsa dan menjadi akut (korupsi, asusila, kejahatan, tindakan kriminal pada semua sektor pembangunan, dll). Terdapat data bahwa 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011, 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011, 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap, kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU, KPPU, Ditjen Pajak, BI dan BKPM. Indonesia menempati urutan ke 3 sedunia sebagai Negara terkorup. Korupsi yang terjadi diranah pendidikan juga marak yaitu adanya jejak pendapat mencontek/menjiplak atau plagiat. (sumber : http:// www. pendidikankarakter.com/pentingnya-pendidikan-karakter-dalam-dunia-pendidikan/).

Jika pembelajaran sukses dan siswa memahami betul konsep-konsep dasar dan memperoleh nilai yang baik, maka permasalahannya mengapa ketika para lulusan telah bekerja, menjadi pejabat daerah malah melakukan korupsi? Apakah ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan masih ada yang kurang? Beberapa riset mengindikasikan bahwa perilaku tidak etis tersebut dipengaruhi oleh dunia pendidikan yang mereka tempuh. Maka perlu diterapkannya penanaman nilai-nilai karakter yang luhur pada pembelajaran. Jika diterapkan nilai-nilai karakter bangsa pada pembelajaran maka akan dapat menciptakan lulusan yang menjadi manusia yang berkarakter, memiliki etika yang baik dan say no to corrupt.

Berdasarkan latar belakang diatas maka makalah ini akan membahas tentang (1) hakikat pendidikan karakter (2) pendekatan-pendekatan dalam pembentukan karakter (3) dua bentuk pembelajaran dalam pendidikan karakter.

B.       Hakikat Pendidikan Karakter

  1. Pengertian pendidikan karakter

Pendidikan karakter menurut Ratna dalam Dharma Kesuma (2011:5), “Sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. Dalam konteks kajian P3 Dharma, Cepi Triatna dan Johar Permana mendefinisikan pendidikan karakter dalam seting sekolah sebagai “pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah.” Definisi ini mengandung makna :

  1. Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang terintegrasi dengan pembelajaran yang terjadi pada semua mata pelajaran;
  2. Diarahkan pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh.
  3. Penguatan dan pengembangan perilaku didasari oleh nilai yang dirujuk sekolah (lembaga).
  4. Tujuan pendidikan karakter dalam seting sekolah

Menurut Dharma Kesuma, dkk (2011:9) Pendidikan karakter dalam seting sekolah memiliki tujuan sebagai berikut :

  1. Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian/kepemilikan peserta didik yang khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan;
  2. Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah;
  3. Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama.

C.      Pendekatan – Pendekatan dalam  Pembentukan Karakter.

Pelaksanaan pendidikan karakter budaya bangsa perlu menggunakan pendekatan-pendekatan yang dapat memudahkan  pencapaian tujuan. Pendekatan ini dilakukan agar peserta didik sebagai subyek dalam pengembangan karakter menjadi dekat dengan   obyek atau sasaran kegiatan  yaitu implementasi nilai-nilai budaya sehingga pelaksanaannya menjadi lebih jelas, mudah dan hasilnya optimal.  Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan antara lain :

a.    Pendekatan dengan Sistem Among, yaitu ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani, yang dilandasi oleh asas kekeluargaan, yaitu saling asah, saling asih dan saling asuh di antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa dan guru dengan guru yang berjalan secara sinergis. Jadi, guru dalam mendidik dan mengajar di depan hendaknya dapat memberi dan menjadi contoh teladan, di tengah memberi penguatan, perhatian dan bimbingan, sedangkan di belakang memberi dorongan dan mengingatkan bila anak melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya dan keluar dari konteksnya, namun tidak dibenarkan bila mencela atau mematahkan semangat yang dapat membuat anak menjadi patah semangat atau putus asa, karena hal ini akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan jiwa dan kepribadian anak.

b.   Pendekatan inspiratif, yaitu upaya untuk menginternalisasikan nilai-nilai dengan menciptakan situasi atau kegiatan yang mampu memberikan inspirasi pada diri siswa, seperti misalnya memberikan cerita tentang tokoh-tokoh pahlawan atau orang-orang yang berhasil yang memiliki karakter baik yang bisa dicontoh, melalui jumpa tokoh nasional dan lain-lain, sehingga anak-anak terinspirasi akan keberhasilan para tokoh tersebut. Nilai-nilai yang terdapat dalam diri tokoh akan keberhasilannya atau keteladanannya akan diinternalisasi ke dalam dirinya sehingga menjadi nilai diri. Dari nilai-nilai yang telah terinternalisasi menjadi nilai diri tersebut akan mendorong tumbuh dan berkembangnya karakter dan budaya anak.

c.    Pendekatan keteladanan, yaitu sikap teladan yang tercermin dalam diri orang tua atau guru yang nampak dalam sikap perilaku dalam kehidupan sehari-hari, yaitu adanya kesamaan antara ucapan dan tindakan yang dilakukan oleh orang tua atau guru. Jadi apa yang diucapkan hendaknya sama dengan apa yang dilakukan, baik saat kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah karena hal ini akan dilihat dan di dengarkan langsung oleh anak-anak.

d.   Pendekatan intelektualistik, yaitu pendekatan yang dilakukan melalui pengajaran di kelas, berupa upaya-upaya penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam mata pelajaran, sehingga secara kognitif anak memiliki pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai tersebut secara efektif pada derajat kemampuan tertentu, dengan demikian anak dapat menerima dan melaksanakan sistem nilai yang telah ditanamkan.

e.    Pendekatan aktualistik, yaitu anak akan mengaktualisasikan nilai-nilai yang telah menjadi bagian dari dirinya melalui berbagai kegiatan nyata yang diberikan kepada anak. Dalam hal ini anak akan melakukan kegiatan-kegiatan kongkrit yang ada dalam kehidupan. Melalui pendekatan aktualistik ini anak akan membiasakan diri untuk mengembangkan sikap dan perilaku dalam kehidupannya sesuai dengan tata nilai yang ada dalam masyarakat.

f.     Pendekatan eksemplar, yaitu anak dibawa ke dalam dunia nyata yang ada dalam lingkungan kehidupan di sekitarnya sehingga anak dapat menghayati nilai-nilai yang ada dalam kehidupan sekitarnya. Dengan penghayatan ini diharapkan anak dapat memahami kehidupan nyata, apa yang boleh dan harus dilakukan serta apa yang tidak boleh dilakukan ia sudah dapat membedakannya. Kegiatan ini untuk menumbuhkan rasa keterpanggilan diri terhadap kehidupan lingkungan, sehingga bila terjadi sesuatu yang ada di sekitarnya anak merasa terpanggil atau tergugah hatinya untuk ikut membantunya. Seperti misalnya membantu gotong royong dalam kerja bakti di masyarakat, membantu tetangga yang sedang tertimpa musibah, membantu kegiatan siskamling, donor darah, Latihan Kemasyarakatan di daerah yang miskin atau daerah terpencil yang kurang maju, bakti sosial, pasar murah, home industri, dan lain sebagainya.

Kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat, yang hasilnya juga dapat dinikmati langsung oleh masyarakat. Kegiatan semacam ini akan memberikan dampak yang sangat positif dalam pengalaman hidup anak-anak di dunia yang nyata, dan diharapkan di dalam dirinya akan tumbuh jiwa sosial dan jiwa pengabdian. Dengan demikian diharapkan anak akan memiliki sikap dan kemampuan untuk mau mengabdikan dirinya kepada masyarakat, bangsa dan negara.

 D.      Dua Bentuk Pembelajaran Dalam Pendidikan Karakter

Pusat pengkajian pedagogik UPI sebagai salah satu institusi yang mencoba mengembangkan teori dan praktik pendidikan menuju pendidikan yang lebih baik, mencoba mengembangkan dua jenis pembelajaran yang mengarah pada pendidikan karakter. Artinya dengan dua bentuk pembelajaran ini dapat dibedakan apakah suatu pembelajaran dikategorikan sebagai pendidikan karakter atau pengajaran semata. Harus diakui bahwa pendidikan karakter bukan semata-mata tugas dari guru agama, guru PKn, atau guru BP semata, tetapi tanggung jawab semua guru, bahkan kepala sekolah, semua warga sekolah dan oaring tua serta masyarakat. Maka dua bentuk pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran substantif dan pembelajaran reflektif.

a.    Pembelajaran substantif

Pembelajaran substantif adalah pembelajaran yang substansi materinya terkait langsung dengan suatu nilai. Seperti pada mata pelajaran agama dan PKn. Proses pembelajaran substantif dilakukan dengan mengkaji suatu nilai yang dibahas, mengaitkannya dengan kemaslahan (untuk kebaikan) kehidupan anak dan kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan ini, pendidikan agama di sekolah, semisal pendidikan agama islam, tidak saja menjadikan anak terampil dalam bacaan dan gerakan shalat, tetapi juga anak memiliki kebiasaan, kemauan yang kuat dan merasakan manfaat shalat bagi dirinya dan orang-orang yang ada disekitarnya.

Proses pembelajaran selalu dikaikan dengan nilai yang ingin diperkuat pada anak. Misal nilai yang terkandung dalam shalat adalah penghambaan, keteraturan/ketertiban. Kerendahan hati, keikhlasan, kebersamaan, amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh pada kebaikan dan mencegah kejelekan), dan sebagainya. Nilai mana yang akan dirujuk dalam pembelajaran terlebih dahulu didesain oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran yang mengarah pada visi sekolah. Demikian halnya dengan mata pelajaran pendidikan Kewarganegaraan.

b.   Pembelajaran reflektif

Pembelajaran reflektif  adalah pendidikan karakter yang terintegrasi atau melekat pada semua mata pelajaran atau bidang studi di semua jenjang dan jenis pendidikan. Proses pembelajaran dilakukan oleh semua guru mata pelajaran, seperti guru Matematika, IPS, IPA, Bahasa Indonesia, dan mata pelajaran lainnya. Proses pembelajaran reflektif dilakukan melalui pengaitan materi-materi yang dibahas dalam pembelajaran dengan makna di belakang materi tersebut. Dengan kata lain, dalam proses pembelajaran guru menjawab pertanyaan mengapa suatu materi itu ada dan dibutuhkan dalam kehidupan. Misalnya  guru Matematika melakukan pembelajaran tentang kesebangunan maka guru dapat memberi refleksi dengan cara menanyakan mengapa kesebagunan itu perlu dikaji oleh manusia?. Berdasarkan pertanyaan tersebut guru mengaitkan kesebangunan dengan kehidupan manusia. Ketika materi kesebangunan ini direfleksikan kepada kehidupan manusia, maka ada nilai yang dapat dikuatkan bagi anak, seperti saling menghormati terhadap perbedaan dan menghargai atas kesamaan secara tepat. Proses mengaitkan materi dengan suatu nilai yang terkandung di belakang materi tersebut inilah yang disebut sebagai pembelajaran reflektif. Maksudnya adalah materi yang dibahas oleh guru dalam semua materi pelajaran selalu direfleksikan terhadap sebuah nilai di balik materi dan kemudian dikaitkan dengan kemaslahatan kehidupan anak (lebih luas kehidupan manusia).

Refleksi merupakan proses seseorang untuk memahami makna dibalik suatu fakta, fenomena, informasi, atau benda. Model reflektif dalam bagian ini adalah model pembelajaran pendidikan karakter yang diarahkan pada pemahaman terhadap makna dan nilai yang terkandung di balik teori, fakta, fenomena, informasi atau benda yang menjadi bahan ajar dalam suatu mata pelajaran ( Dharma Kesuma, 2011: 119).

Prinsip-prinsip yang harus ditempuh untuk mengimplementasikan pembelajaran reflektif adalah sebagai berikut :

1)   Dasar interaksi pembelajaran antara guru dan peserta didik adalah kasih sayang.

2)   Sikap dan perilaku guru harus mencerminkan nilai yang dianut atau dirujuk oleh sekolah.

3)   Pandangan guru terhadap peserta didik adalah subjek yang sedang tumbuh dan berkembang yang pertumbuhan dan perkembangannya terkait dengan peran guru.

Tahapan yang harus dilakukan oleh guru untuk melaksanakan pembelajaran reflektif sebagai berikut :

1)   Menyusun RPP berbasis karakter.

2)   Guru melakukan apersepsi yang kontekstual dengan kehidupan anak terkait dengan materi yang akan dibahas.

3)   Melakukan pembelajaran sebagaimana didesain dalam RPP.

4)   Melakukan evaluasi yang dilakukan melalui pengamatan terhadap sejauh mana nilai-nilai yang akan dikuatkan atau dikembangkan muncul dalam perilaku anak.

5)   Memberi catatan khusus jika anak yang secara khusus memiliki perkembangan perilaku yang berbeda dengan kelompoknya atau tidak sesuai dengan tahapan perkembangannya, apakah bersifat positif maupun negatif

6)   Memberi referensi/rujukan kepada guru lain, apakah guru BP atau wali kelas, orang tua atau berbagai pihak yang berkepentingan yang dianggap layak untuk menangani anak-anak yang dikategorikan memiliki kekhususan dalam perkembangan nilai dan karakter.

E.       Kesimpulan

Berdasarkan paparan diatas maka dapat ditarik kesimpulan  sebagai berikut :

  1. Pendidikan karakter itu penting bagi bangsa Indonesia karena untuk memperbaiki moral anak bangsa yang sudah rusak.
  2. Pendidikan karakter adalah pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah.
  3. Pendekatan yang dapat dilakukan dalam pembentukan karakter antara lain pendekatan sistem among, pendekatan inspiratif, pendekatan keteladanan, pendekatan intelektualistik, pendekatan aktualistik dan pendekatan eksemplar.
  4. Dua bentuk pembelajaran dalam pendidikan karakter yaitu pembelajaran substantif dan pembelajaran reflektif. Pembelajaran substantif adalah  pembelajaran yang substansi materinya terkait langsung dengan suatu nilai. Sedangkan pembelajaran reflektif adalah model pembelajaran pendidikan karakter yang diarahkan pada pemahaman terhadap makna dan nilai yang terkandung di balik teori, fakta, fenomena, informasi atau benda yang menjadi bahan ajar dalam suatu mata pelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Dharma Kesuma, dkk. 2011. Pendidikan Karakter (kajian Teori dan Praktik di Sekolah). Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Jumali, dkk. 2008. Landasan Pendidikan. Surakarta : Muhammadiyah University Press.

Timothy Wibowo. Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk 275 jut penduduk Indonesia. Artikel 1. Diambil pada tanggal 20 Maret 2013. Dari http://www.pendidikankarakter.com/pentingnya-pendidikan-karakter-dalam-dunia-pendidikan/

Siti Nur Wahyuni. 17 Desember 2012. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran IPS. Artikel 1. Diambil pada tanggal 19 Maret 2013. Dari http://sitinurwahyunis.blogspot.com/2012/12/implementasi-pendidikan-karakter-dalam.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s